RSS

Menentukan Arah Kiblat

01 Agu

ILMU FALAK
Menentukan Arah Kiblat
Diposting oleh : admin
Pada 7 Mei 2009
Pendahuluan
Kiblat berasal
dari bahasa
Arab ( ﺔﻠﺒﻗ )
adalah arah
yang merujuk
ke suatu
tempat
dimana
bangunan Ka’bah di Masjidil Haram , Makkah, Arab
Saudi. Ka’bah juga sering disebut dengan Baitullah
(Rumah Allah). Menghadap arah Kiblat merupakan
suatu masalah yang penting dalam syariat Islam.
Menurut hukum syariat, menghadap ke arah kiblat
diartikan sebagai seluruh tubuh atau badan seseorang
menghadap ke arah Ka’bah yang terletak di Makkah
yang merupakan pusat tumpuan umat Islam bagi
menyempurnakan ibadah-ibadah tertentu.
Pada awalnya, kiblat mengarah ke Baitul Maqdis atau
Masjidil Aqsa Jerusalem di Palestina, namun pada
tahun 624 M ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke
Madinah, arah Kiblat berpindah ke arah Ka’bah di
Makkah hingga kini atas petunjuk wahyu dari Allah
SWT. Beberapa ulama berpendapat bahwa turunnya
wahyu perpindahan kiblat ini karena perselisihan
Rasulullah SAW di Madinah.
Menghadap ke arah kiblat menjadi syarat sah bagi
umat Islam yang hendak menunaikan shalat baik
shalat fardhu lima waktu sehari semalam atau shalat-
shalat sunat yang lain. Kaidah dalam menentukan
arah kiblat memerlukan suatu ilmu khusus yang harus
dipelajari atau sekurang-kurangnya meyakini arah
yang dibenarkan agar sesuai dengan syariat.
Hukum Arah Kiblat
Kiblat sebagai pusat tumpuan umat Islam dalam
mengerjakan ibadah dalam konsep arah terdapat
beberapa hukum yang berkaitan yang telah
ditentukan secara syariat yaitu:
a.    Hukum Wajib
1.  Ketika shalat fardhu ataupun shalat sunat menghadap
kiblat merupakan syarat sahnya shalat
2.  Ketika melakukan tawaf di Baitullah.
3. Ketika menguburkan jenazah maka harus diletakkan
miring bahu kanan menyentuh liang lahat dan
muka menghadap kiblat.
b.   Hukum Sunat
Bagi yang ingin membaca Al-Quran, berdoa, berzikir,
tidur (bahu kanan dibawah) dan lain-lain yang
berkaitan.
c.   Hukum Haram
Ketika membuang air besar atau kecil di tanah lapang
tanpa ada dinding penghalang.
d.   Hukum Makruh
Membelakangi arah kiblat dalam setiap perbuatan
seperti membuang air besar atau kecil dalam keadaan
berdinding, tidur menelentang sedang kaki selunjur
ke arah kiblat dan sebagainya.
Dalil Al-Quran Berkaitan Arah Kiblat
Surah Al-Baqarah ayat 149 :
Artinya :”Dan dari mana saja engkau keluar (untuk
mengerjakan shalat) hadapkanlah mukamu ke arah
Masjidil Haram (Ka’bah). Sesunggunya perintah
berkiblat ke Ka’bah itu benar dari Allah (tuhanmu)
dan ingatlah Allah tidak sekali-kali lalai akan segala
apa yang kamu lakukan”.
Surah Al-Baqarah ayat 150:
Artinya: “Dan dari mana saja engkau keluar (untuk
mengerjakan solat) maka hadapkanlah mukamu ke
arah Masjidil Haram (Ka’bah) dan dimana sahaja kamu
berada maka hadapkanlah muka kamu ke arahnya,
supaya tidak ada lagi sebarang alasan bagi orang yang
menyalahi kamu, kecuali orang yang zalim diantara
mereka (ada saja yang mereka jadikan alasannya).
Maka janganlah kamu takut kepada cacat cela mereka
dan takutlah kamu kepada-Ku semata-mata dan supaya
Aku sempurnakan nikmat-Ku kepada kamu, dan juga
supaya kamu beroleh petunjuk hidayah (mengenai
perkara yang benar)”.
Hadits Berkaitan Arah Kiblat
Dari Abu Hurairah r.a.
” Dari Abu Hurairah ra katanya : Sabda Rasulullah
saw. Di antara Timur dan Barat terletaknya kiblat
(Ka’bah) “.
Dari Anas bin Malik r.a.
“Bahwasanya Rasullullah s.a.w (pada suatu hari)
sedang mendirikan solat dengan menghadap ke Baitul
Maqdis. Kemudian turunlah ayat Al-Quran:
“Sesungguhnya kami selalu melihat mukamu
menengadah ke langit (berdoa mengadap kelangit).
Maka turunlah wahyu memerintahkan Baginda
mengadap ke Baitullah (Ka’bah). Sesungguhnya kamu
palingkanlah mukamu ke kiblat yang kamu sukai.
Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.
Kemudian seorang lelaki Bani Salamah lalu, ketika itu
orang ramai sedang ruku’ pada rakaat kedua shalat
fajar. Beliau menyeru, sesungguhnya kiblat telah
berubah. Lalu mereka berpaling ke arah kiblat”.
( Diriwayatkan Oleh Muslim )
Berdasarkan ayat Al Qur’an dan hadits yang telah
dinyatakan maka jelaslah bahwa menghadap arah
kiblat itu merupakan satu kewajipan yang telah
ditetapkan dalam hukum atau syariat. Maka tiadalah
kiblat yang lain bagi umat Islam melainkan Ka’bah di
Baitullah di Masjidil Haram.
Ijtihad  Arah Kiblat
Konsep Ijtihad dalam menentukan Arah Qiblat
Arah kiblat dalam konsep segitiga datar
Kesemua empat mazhab yaitu Hanafi, Maliki, Syafii
dan Hambali telah bersepakat bahwa menghadap
kiblat salah satu merupakan syarat sahnya shalat. Bagi
Mazhab Syafii telah menambah dan menetapkan tiga
kaidah yang bisa digunakan untuk memenuhi syarat
menghadap kiblat yaitu:
1.   Menghadap Kiblat Yakin (Kiblat Yakin)
Seseorang yang berada di dalam Masjidil Haram dan
melihat langsung Ka’bah, wajib menghadapkan
dirinya ke Kiblat dengan penuh yakin. Ini yang juga
disebut sebagai “Ainul Ka’bah”. Kewajiban tersebut
bisa dipastikan terlebih dahulu dengan melihat atau
menyentuhnya bagi orang yang buta atau dengan cara
lain yang bisa digunakan misalnya pendengaran.
Sedangkan bagi seseorang yang berada dalam
bangunan Ka’bah itu sendiri maka kiblatnya adalah
dinding Ka’bah.
2. Menghadap Kiblat Perkiraan (Kiblat Dzan)
Seseorang yang berada jauh dari Ka’bah yaitu berada
diluar Masjidil Haram atau di sekitar tanah suci
Mekkah sehingga tidak dapat melihat bangunan
Ka’bah, mereka wajib menghadap ke arah Masjidil
Haram sebagai maksud menghadap ke arah Kiblat
secara dzan atau kiraan atau disebut sebagai “Jihadul
Ka’bah”. Untuk mengetahuinya dapat dilakukan
dengan bertanya kepada mereka yang mengetahui
seperti penduduk Makkah atau melihat tanda-tanda
kiblat atau “shaff” yang sudah dibuat di tempat–tempat
tersebut.
3.  Menghadap Kiblat Ijtihad (Kiblat Ijtihad)
Ijtihad arah kiblat digunakan seseorang yang berada
di luar tanah suci Makkah atau bahkan di luar negara
Arab Saudi. Bagi yang tidak tahu arah dan ia tidak
dapat mengira Kiblat Dzan nya maka ia boleh
menghadap kemanapun yang ia yakini sebagai Arah
Kiblat. Namun bagi yang dapat mengira maka ia
wajib ijtihad terhadap arah kiblatnya. Ijtihad dapat
digunakan untuk menentukan arah kiblat dari suatu
tempat yang terletak jauh dari Masjidil Haram.
Diantaranya adalah ijtihad menggunakan posisi rasi
bintang, bayangan matahari, arah matahari terbenam
dan perhitungan segitiga bola maupun pengukuran
menggunakan peralatan modern.
Bagi lokasi atau tempat yang jauh seperti Indonesia,
ijtihad arah kiblat dapat ditentukan melalui
perhitungan falak atau astronomi serta dibantu
pengukurannya menggunakan peralatan modern
seperti kompas, GPS, theodolit dan sebagainya.
Penggunaan alat-alat modern ini akan menjadikan
arah kiblat yang kita tuju semakin tepat dan akurat.
Dengan bantuan alat dan keyakinan yang lebih tinggi
maka hukum Kiblat Dzan akan semakin mendekati
Kiblat Yakin. Dan sekarang kaidah-kaidah
pengukuran arah kiblat menggunakan perhitungan
astronomis dan pengukuran menggunakan alat-alat
modern semakin banyak digunakan secara nasional di
Indonesia dan juga di negara-negara lain. Bagi orang
awam atau kalangan yang tidak tahu menggunakan
kaidah tersebut, ia perlu taqlid atau percaya kepada
orang yang berijtihad.
Teknik / Kaidah Penentuan Arah Kiblat
1. PERHITUNGAN / HISAB ARAH KIBLAT
Koordinat Posisi Geografis
Setiap lokasi di permukaan bumi ditentukan oleh dua
bilangan yang menunjukkan kooordinat atau
posisinya. Koordinat posisi ini masing-masing
disebut Latitude (Lintang) dan Longitude (Bujur).
Sesungguhya angka koordinat ini merupakan angka
sudut yang diukur dari pusat bumi sampai
permukaannya. Acuan pengukuran dari suatu tempat
yang merupakan perpotongan antara garis Ekuator
dengan Garis Prime Meridian yang melewati kota
Greenwich Inggris. Titik ini  berada di Laut Atlantik
kira-kira 500 km di Selatan kota Accra Rep. Ghana
Afrika.
Satuan kooordinat lokasi dinyatakan dengan derajat,
menit busur dan detik busur dan disimbolkan dengan
( °,   ‘,   ” ) misalnya 110° 47’ 9” dibaca 110 derajat 47
menit 9 detik. Dimana 1° = 60’ = 3600”. Dan perlu
diingat bahwa walaupun menggunakan kata menit
dan detik namun ini adalah satuan sudut dan bukan
satuan waktu.
Latitude disimbolkan dengan huruf Yunani φ (phi)
dan Longitude disimbolkan dengan λ (lamda).
Latitude atau Lintang adalah garis vertikal yang
menyatakan jarak sudut sebuah titik dari lintang nol
derajat yaitu garis Ekuator. Lintang dibagi menjadi
Lintang Utara (LU) nilainya positif (+) dan Lintang
Selatan (LS) nilainya negatif (-) sedangkan Longitude
atau Bujur adalah garis horisontal yang menyatakan
jarak sudut sebuah titik dari bujur nol derajat yaitu
garis Prime Meridian. Bujur dibagi menjadi Bujur
Timur (BT) nilainya positif (+) dan Bujur Barat (BB)
nilainya negatif (-). Untuk standard internasional
angka longitude dan latitude menggunakan kode arah
kompas yaitu North (N), South(S), East (E) dan West
(W). Misalnya Yogyakarta berada di Longitude 110°
47’ BT bisa ditulis 110° 47’ E atau +110° 47’.
Ilmu Ukur Segitiga Bola
Ilmu ukur segitiga bola atau disebut juga dengan
istilah trigonometri bola (spherical trigonometri)
adalah ilmu ukur sudut bidang datar yang
diaplikasikan pada permukaan berbentuk bola yaitu
bumi yang kita tempati. Ilmu ini pertama kali
dikembangkan para ilmuwan muslim dari Jazirah Arab
seperti Al Battani dan Al Khawarizmi dan terus
berkembang hingga kini menjadi sebuah ilmu yang
mendapat julukan Geodesi. Segitiga bola menjadi
ilmu andalan tidak hanya untuk menghitung arah
kiblat bahkan termasuk jarak lurus dua buah tempat di
permukaan bumi.
Sebagaimana sudah disepakati secara umum bahwa
yang disebut arah adalah “jarak terpendek” berupa
garis lurus ke suatu tempat sehingga Kiblat juga
menunjukkan arah terpendek ke Ka’bah. Karena
bentuk bumi yang bulat, garis ini membentuk busur
besar sepanjang permukaan bumi. Lokasi Ka’bah
berdasarkan pengukuran menggunakan Global
Positioning System (GPS) maupun menggunakan
software Google Earth secara astronomis berada di
21° 25′ 21.04″ Lintang Utara dan 39° 49′ 34.04″ Bujur
Timur. Angka tersebut dibuat dengan ketelitian cukup
tinggi. Namun untuk keperluan praktis perhitungan
tidak perlu sedetil angka tersebut. Biasanya yang
digunakan adalah :
φ = 21° 25’ LU  dan  λ = 39° 50’ BT  (1° = 60’ = 3600”)
° = derajat   ‘  =  menit busur   dan “ = detik busur
Arah Ka’bah yang berada di kota Makkah yang
dijadikan Kiblat dapat diketahui dari setiap titik di
permukaan bumi, maka untuk menentukan arah kiblat
dapat dilakukan dengan menggunakan Ilmu Ukur
Segitiga Bola (Spherical Trigonometri). Penghitungan
dan pengukuran dilakukan dengan derajat sudut dari
titik kutub Utara, dengan menggunakan alat bantu
mesin hitung atau kalkulator.
Untuk
perhitungan
arah
kiblat,
ada
3
buah
titik
yang
harus
dibuat,
yaitu :
1. Titik
A,
diletakkan di Ka’bah (Mekah)
2. Titik B, diletakkan di lokasi yang akan ditentukan
arah kiblatnya.
3. Titik C, diletakkan di titik kutub utara.
Titik A dan titik C adalah dua titik yang tetap, karena
titik A tepat di Ka’bah dan titik C tepat di kutub Utara
sedangkan titik B senantiasa berubah tergantung
lokasi mana yang akan dihitung arah Kiblatnya.
Bila ketiga titik tersebut dihubungkan dengan garis
lengkung permukaan bumi, maka terjadilah segitiga
bola ABC, seperti pada gambar.
Ketiga sisi segitiga ABC di samping ini diberi nama
dengan huruf kecil dengan nama sudut didepannya
masing-masing sisi a, sisi b dan sisi c.
Dari gambar di atas, dapatlah diketahui bahwa yang
dimaksud dengan perhitungan Arah Kiblat adalah
suatu perhitungan untuk mengetahui berapa besar
nilai sudut K di titik B, yakni sudut yang diapit oleh
sisi a dan sisi c.
Pembuatan gambar segitiga bola seperti di atas sangat
berguna untuk membantu menentukan nilai sudut
arah kiblat bagi suatu tempat dipermukaan bumi ini
dihitung/diukur dari suatu titik arah mata angin ke
arah mata angin lainnya, misalnya diukur dari titik
Utara ke Barat (U-B), atau diukur searah jarum jam
dari titik Utara (UTSB).
Untuk perhitungan arah kiblat, hanya diperlukan dua
data :
1). Koordinat Ka’bah φ = 21o 25’ LU dan λ =
39o 50’ BT.
2). Koordinat lokasi yang akan dihitung arah
kiblatnya.
Sedangkan data lintang dan bujur tempat lokasi kota
yang akan dihitung arah kiblatnya dapat diambil dari
berbagai sumber diantaranya : Atlas Indonesia dan
Dunia, Taqwim Standar Indonesia, Tabel Geografis
Kota-kota Dunia, situs Internet maupun lewat
pengukuran langsung menggunakan piranti Global
Positioning System (GPS).
Data dan Rumus Arah Kiblat yang Digunakan
No INDONESIA NILAI ARAB INTERNASIONAL SIMBOL
1 Lintang    ( LU / LS ) + / – ‘Ardul  balad Latitude    (U/S) phi = φ
2 Bujur        ( BT / BB ) + / – Thulul balad Longitude (E/W) lambda = λ
Data geografis Ka’bah di Makkah : φ = 21° 25’
LU  dan  λ = 39° 50’ BT  (diringkas)
Dalam ilmu segitiga bola terdapat banyak sekali rumus
yang dapat digunakan untuk menghitung arah kiblat
serta menghitung jarak dari ka’bah ke lokasi tertentu.
Contoh : Menghitung Arah Kiblat Yogyakarta
dengan    Markaz Masjid Syuhada
Data Koordinat Geografis : φ t = -7° 47′ (LS) dan
λt =  110° 22′  (BT)
Hasil Perhitungan :
                                         sin ( 110° 22’ – 39° 50’)
tg K =
—————————————————————————
                cos -7° 47’ .  tg 21° 25 –  sin -7° 47’ . cos
( 110° 22’ – 39° 50’)
                                                0,942835532
tg K =
———————————————————————————
0,990787276 . 0,392231316 –
(-0,135427369) . 0,333258396
0,942835532                                               0,942835532
tg K = ——————————————-
–>    tg K  =    ——————-
0,388617797 – (-0,045132307)
0,433750104
tg K  =   2,173683703    –>     K =  65,29527469 °   —
>  K =  65° 17’ 42.99”
Jadi Arah Kiblat Masjid Syuhada 65° 17’ 42.99”
dihitung dari titik Utara Sejati ke Arah Barat atau jika
dihitung dari arah Barat ke Utara sebesar 24° 42’
17,01”  atau 24,7° .
Dalam prakteknya angka arah kiblat ini diwakilkan
dalam angka skala kompas dengan pandual nol derajat
di titik Utara sehingga angka arah kiblat menurut
kompas adalah :
KK =  360° – 65,3 °  =   294, 7 °
Dari hasil perhitungan dengan rumus tersebut di atas,
kota-kota yang sudah diketahui lintang dan bujurnya
akan dapat diketahui pula arah kiblatnya secara tepat
menggunakan rumus segitiga bola tersebut. Data
koordinat geografis beberapa kota besar di Indonesia
dan kecamatan se DIY terdapat dalam lampiran.
Untuk melakukan perhitungan secara manual dapat
dilakukan menggunakan alat yang paling sederhana
yang disebut “Rubuk Mujayyab”. Alat yang berbentuk
seperempat lingkaran ini merupakan alat peninggalan
jaman Al Khawarizmi 14 abad yang lalu. Alat ini
ternyata memiliki kemampuan melakukan hitungan
trigonometri. Alat ini juga dapat dengan mudah kita
buat sendiri.
Selanjutnya daftar logaritma juga bisa digunakan
namun sebaiknya mengunakan kalkulator yang
memiliki fungsi trigonometri Sinus, Cosinus dan
Tangen juga memori penyimpanan cukup banyak
sehingga angka-angka yang telah didapatkan bisa
disimpan. Kalkulator yang disarankan untuk
melakukan hitungan arah kiblat juga adalah kalkulator
yang memiliki kemampuan melakukan programming
agar hitungan terhadap banyak data arah kiblat
menjadi lebih cepat. Disarankan juga menggunakan
kalkulator yang memiliki layar dot matrix dual line
yaitu memiliki dua baris tampilan layar terpisah antara
proses dan hasilnya. Kalkulator jenis ini misalnya
KARCHE 4600SX, KARCE 4650P, CASIO
FX3600SP, CASIO fx4500P dsb.
Peta Arah Kiblat di DI. Yogyakarta dan sekitarnya
(sumber: BHR DIY)
Perlu diketahui bahwa akibat yang akan terjadi karena
serongnya arah kiblat terhadap ka’bah yang hanya
berukuran 12 x 10.5 x 15 meter serta jauhnya jarak
dari Indonesia yaitu sekitar 8000 km à maka selisih 1°
akan menyebabkan pergeseran sebesar 126 kilometer
di Utara atau Selatan Ka’bah itu sendiri.
Terdapat berbagai macam kaidah atau cara yang dapat
digunakan untuk menentukan arah kiblat baik untuk
menyemakan arah kiblat masjid, langgar / surau /
musholla maupun arah kiblat untuk shalat di dalam
rumah. Kaidah tersebut meliputi kaidah tradisional
maupun kaidah baru menggunakan peralatan modern.
2. PENGUKURAN ARAH KIBLAT
Kaidah Arah Kiblat Tradisional
■  Istiwa A’zam – Matahari Istiwa di Atas Ka’bah
Kejadian saat posisi matahari istiwa (kulminasi) tepat
di atas Ka’bah terjadi dua kali setahun yaitu pada
setiap tanggal 28 Mei sekitar pukul 16.18 WIB dan
pada 16 Juli sekitar jam 16.28 WIB. Ketika matahari
istiwa di atas Ka’bah, bayang-bayang objek tegak di
seluruh dunia akan lurus ke arah kiblat.
Kedudukan matahari di atas Ka’bah yang
menyebabkan bayangan tegak diseluruh dunia searah
kiblat.
Panduan untuk menentukan arah kiblat dari sesuatu
tempat pada tanggal dan jam yang telah ditentukan
diatas:
1. Dirikan sebuah tiang di sekitar lokasi yang hendak
diukur arah kiblatnya.
2. Pastikan tiang tersebut tegak dan lurus. Untuk
meyakinkan posisi tegakknya dapat diukur
menggunakan bandul yang tergantung pada
seutas tali.
3. Tempat yang dipilih untuk pengukuran ini tidak
boleh terlindung dari ahaya matahari. Oleh karena
matahari berada di Barat, maka bayangan akan
kearah Timur, maka arah kiblat ialah bayang yang
menghadap ke Barat.
■  Menggunakan Rasi Bintang (Konstelasi)
Rasi Bintang ialah sekumpulan bintang yang berada
di suatu kawasan langit serta mempunyai bentuk yang
hampir sama dan kelihatan berdekatan antara satu
sama lain. Menurut International Astronomical
Union ( IAU ), kubah langit dibagi menjadi delapan
puluh delapan (88) kawasan rasi bintang. Bintang-
bintang yang berada disuatu kawasan yang sama
adalah dalam satu rasi. Masyarakat dahulu telah
menetapkan sesuatu rasi bintang mengikuti bentuk
yang mudah mereka kenal pasti seperti bentuk-
bentuk binatang dan benda-benda. Dengan
mengetahui bentuk rasi tertentu, arah mata angin
dan  arah Kiblat dari suatu tempat dapat ditentukan.
Rasi Orion (Al-Babudur)
Pada rasi ini terdapat tiga bintang yang berderet yaitu
Mintaka, Alnilam dan Alnitak. Arah Kiblat dapat
diketahui dengan mengunjurkan arah tiga bintang
berderet tersebut ke arah Barat. Rasi Orion akan
berada di langit Indonesia ketika waktu subuh pada
Juli dan kemudian akan kelihatan lebih awal pada
bulan Desember. Pada bulan Maret Rasi Orion akan
berada ditengah-tengah langit pada waktu Maghrib.
Bentuk Rasi Orion dan Penentuan Arah Kiblat.
Menggunakan kedudukan Bintang Al-Qutbi / Kutub
(Polaris)
Bintang-bintang akan kelihatan mengelilingi pusat
kutub yang ditunjukkan oleh bintang kutub (Polaris).
Oleh itu bintang ini menunjukkan arah Utara benar
dari manapun di muka bumi ini. Bintang kutub
terletak dalam buruj al-judah ( Rasi Bajak / Ursa
Minoris ) dan rasi ini hanya dapat dilihat oleh
masyarakat di bagian Utara katulistiwa pada tengah
malam pada bulan Juli hingga Desember setiap tahun.
Kedudukan bintang kutub bisa dikenali berdasarkan
bentuk rasi bintang ini.
Rasi Al-Judah ( Bajak / Ursa Minoris )
Arah kiblat yang sesusai ditentukan berdasarkan
perbedaan sudut sekitar 65°’ ( Jawa/Sumatra ) ke kiri
dari kedudukan bintang kutub seperti yang
ditunjukkan dalam gambar. Gunakanlah petunjuk
sudut dengan jari untuk menentukan nilai bukaan
sudut.
Panduan jari untuk perkiraan nilai sudut.
■  Kaidah Matahari Terbenam
Secara umum jika kita merujuk kepada kedudukan
matahari terbenam untuk tujuan penentuan arah
kiblat adalah tidak tepat. Ini disebabkan arah matahari
terbenam di Indonesia akan berubah-ubah dari azimut
246 hingga 293. Walau bagaimanapun sebagai salah
satu daripada langkah berijtihad, arah matahari
terbenam dapat digunakan sekiranya diketahui
perbedaan sudut di antara arah matahari dengan arah
kiblat. Ada posisi istimewa terbenamnya matahari
terlihat dari Indonesia yaitu saat matahari berada di
Katulistiwa (Ekuator) yang disebut dengan peristiwa
ekuinox dan saat matahari berada di Titik balik Utara/
Selatan yang disebut Solstice.
Kaidah Penentuan Arah Kiblat Modern
■  Menggunakan Kompas
Penandaan arah kiblat dengan kompas banyak
diamalkan di kalangan masyarakat Islam masa kini.
Arah yang ditunjukkan oleh kompas adalah arah yang
merujuk kepada arah utara magnet. Arah utara magnet
ternyata tidak mesti sama dengan arah utara
sebenarnya. Perbedaan arah utara ini disebut sebagai
sudut serong magnet atau deklinasi yang juga berbeda
diseiap tempat dan selalu berubah sepanjang tahun.
Satu lagi masalah yang bisa timbul dari menggunakan
kompas ialah tarikan gravitasi setempat dimana ia
terpengaruh oleh bahan-bahan logam atau arus listrik
di sekeliling kompas yang digunakan. Namun ia dapat
digunakan sebagai alat alternatif sekiranya alat yang
lebih teliti  tidak ada.
■  Menggunakan Theodolit
Teodolit merupakan antara alat termoden yang dapat
digunakan oleh kebanyakaan pihak yang melakukan
kerja menentukan arah kiblat. Theodolit dapat
digunakan untuk mengukur sudut secara mendatar
dan tegak, dan juga memberi memiliki akurasi atau
ketelitian yang cukup tinggi dan tepat. Untuk
mengendalikan alat ini diperlukan operator yang
terlatih dan menguasai teknik penggunaan theodolith
secara benar.
■  Kaidah Posisi Matahari pada Azimuth Kiblat
Dalam peredarannya, matahari mengalami gerak yang
disebut gerak harian matahari atau gerak musim. Pada
hari-hari tertentu terlihat dari sebuah wilayah maka
posisi matahari akan bertepatan dengan azimuth arah
kiblat dari wilayah tersebut. Dengan menggunakan
perhitungan rumus segitiga bola dan rumus mencari
posisi azimuth matahari akan diketahui kapan
matahari akan memiliki azimuth yang sama dengan
arah kiblat.
PERMASALAHAN PENENTUAN ARAH KIBLAT
DI INDONESIA
Terdapat beberapa faktor penyebab sehingga arah
kiblat dianggap tidak penting. Selain itu sering
terjadinya konflik berkaitan isu pengukuran arah
kiblat yang benar. Diantara penyebab itu misalnya:
■ Tidak ada kepedulian
Terdapat sebagian umat Islam yang mengambil sikap
acuh dan menganggap kelonggaran yang diberikan
oleh hukum syar’a yang membenarkan cukup hanya
menggunakan kaidah qiblat secara dzani saja. Masalah
ini berkaitan dengan Al-Quran Surat Al Baqarah ayat
144 yang berbunyi :
” Maka kami benarkan engkau berpaling mengadap
kiblat yang engkau sukai. Oleh itu palingkanlah
mukamu ke arah Masjidil Haram dan dimana saja
kamu berada hadapkanlah mukamu ke arahnya “.
Perlu diketahui bahwa akibat yang akan terjadi karena
serongnya arah kiblat terhadap ka’bah yang hanya
seluas 12 x 10.5 x 15 meter serta jarak yang jauh dari
Indonesia sekitar 8000 km, maka selisih 1° akan
menyebabkan pergeseran sebesar 140 kilometer di
Utara atau Selatan Mekkah.
■ Kurangnya Pengetahuan Masyarakat
Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai kaidah
penentuan arah kiblat baik secara tradisional maupun
modern menyebabkan banyak sekali terdapat
kekeliruan terhadap kenyataan arah kiblat yang ada di
masyarakat. Kebanyakkan umat Islam sekarang lebih
cenderung menggunakan kiblat masjid mengikut
tradisi lama yaitu dari generasi ke generasi dan tidak
pernah dikur ulang ketepatannya. Begitu juga dalam
menentukan arah kiblat di pemakaman, bahkan hanya
ditentukan oleh penggali kubur, padahal mereka juga
tidak begitu mahir dalam menentukan arah yang tepat
ke kiblat.
■ Ketiadaan peralatan moden untuk melakukan
pengukuran
Sewajarnya umat Islam perlu memiliki alat sekurang-
kurangnya kompas untuk menetukan arah kiblat.
Selain itu juga amat perlu untuk mempunyai
kesadaran tentang pentingnya ilmu falak bagi
menghindari kesalahan dalam menentukan ketepatan
arah kiblat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut
pembentukan organisasi atau badan-badan yang
bertanggungjawab seperti Badan Hisab Rukyat dan
juga lembaga-lembaga Falak yang dimiliki organisai-
organisasi Islam di Indonesai merupakan bagian yang
dipertangungjawabkan untuk membantu
menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan arah
kiblat. Semoga dengan tindakan yang kita lakukan
akan memberi keyakinan terhadap ibadah yang kita
lakukan dan mendapat keridhaan Ilahi.
Akhirnya, semoga risalah kecil ini akan mampu
memberi kefahaman kepada kita tentang pentingnya
ketepatan dalam menentukan arah kiblat yang
menjamin sahnya ibadah kita. Kesadaran kita adalah
amat penting dan rasa bertanggungjawab untuk
memastikan bahwa amalan yang dilakukan berada
dalam keadaan yakin dan seandainya masih ada
keraguan-keraguan tidak ada salahnya untuk meminta
bantuan kepada lembaga-lembaga falak yang ada.
Kontribusi dari : Bahagian Falak Syarie Jabatan Mufti
Negeri Selangor
Alat Pengukur  Arah Kiblat
Alat pengukur arah kiblat pada prinsipnya adalah alat
yang dapat mengetahui arah mata angin. Terdapat
beberapa jenis alat yang biasa digunakan untuk
mengukur arah kiblat misalnya :
1.   Kompas Magnetik
Kompas ini adalah paling banyak digunakan untuk
keperluan memandu arah mata angin. Kini
bermacam-macam jenis kompas magnetik dijual di
pasaran. Kompas magnetik bekerja berdasarkan
kemuatan magnet bumi yang membuat jarum magnet
yang terdapat pada jenis kompas megnetik ini selalu
menunjuk ke arah Utara dan Selatan. Beberapa jenis
dari kompas ini memiliki harga yang murah namun
ketelitiannya kurang. Kompas magnetik yang
memiliki ketelitian cukup tinggi namun harganya
cukup mahal diantaranya jenis Suunto, Forestry
Compass DQL-1, Brunton, Marine, Silva, Leica,
Furuno dan Magellan. Beberapa jenis kompas yang
dijual di pasaran terutama jenis military compass
terbukti banyak menunjukkan penyimpangan antara
1° hingga 10° dari angka yang ditunjukkan oleh
jarumnya. Karena kelemahan utama kompas jenis
magnetik adalah ia begitu mudah terpengaruh oleh
benda-benda yang bermuatan logam sehingga sangat
tidak dianjurkan menggunakan kompas jenis ini
masuk ke dalam bangunan yang mengandung banyak
besi-besi beton. Kompas magnetik dalam praktisnya
juga sangat dipengaruhi oleh medan magnetik lokal
dan deklinasi magnetik secara global. Di sekitar
wilayah DIY angka deklinasi magnetik dapat
menyerongkan kompas hingga mencapai 1° ke arah
Barat. Sehingga pada setiap pengukuran angka pada
kompas magnetik harus dikurangi angka deklinasi
tersebut.
Kalibrasi Kompas
Yang paling penting peralatan kompas yang
menggunakan sistem magnet tersebut harus
dilakukan kalibrasi terlebih dahulu. Kalibrasi adalah
membandingkan hasil pengukuran suatu alat dengan
alat lain yang dijadikan standard. Kalibrasi tentunya
harus menggunakan peralatan yang lebih teliti
misalnya menggunakan piranti Global Positioning
System (GPS) atau piranti Theodolit. Kalibrasi juga
dapat dilakukan dengan menggunakan arah matahari
terbit maupun terbenam pada saat-saat tertentu
misalnya saat matahari terbit dan terbenam di arah
Timur dan Barat tepat yaitu saat peristiwa yang
disebut Ekuinox yang terjadi setiap tanggal 21 Maret
dan 23 September. Juga dapat dilakukan dengan
mengukur masjid yang sudah sesai arah kiblatnya
misalnya masjid Syuhada dan Masjid Kampus UGM
dan masjid Jendral Sudirman. Sementara shaff masjid
besar Kauman juga dapat digunakan sebagai kalibrator
terhadap kompas yang kita miliki. Arah yang
ditunjukkan oleh kompas saat melakukan kalibrasi
dapat dipergunakan untuk melakukan pengukuran
terhadap masjid-masjid lain di sekitarnya.
2.  Kompas Digital
Adanya perkembangan dalam bidang teknologi
memungkinan kompas tidak lagi menggunakan sistem
magnetik yang ternyata memiliki banyak kekurangan
dan kelemahan. Kini telah banyak dibuat model
kompas dengan menggunakan sistem digital dan
dipandu langsung oleh keberadaan satelit yang
banyak beterbaran di atas langit kita. Sistem pemandu
ini dinamakan Global Positioning Sistem (GPS). Salah
satunya adalah aplikasi yang dimiliki oleh salah satu
merk ponsel terkenal. Dengan menginstall aplikasi
tertentu maka ponsel tersebut tidak hanya dapat
digunakan sebagai sarana komunikasi serta hiburan
lewat tayangan film dan musiknya namun ponsel
tersebut kini dapat berfungsi sebagai kompas yang
dapat memandu langsung posisi arah kiblat secara
presisi dimanapun kita berada. Bahkan ia juga
dilengkapi dengan fitur jadwal shalat dan secara
ortomatis akan mengumandangkan adzan saat waktu
shalat tiba. Tidak hanya ponsel, aplikasi arah kiblat
kini juga dikemas dalam sebuah jam tangan maupun
gantungan kunci yang mampu menunjukkan arah
kiblat secara presisi
Selain itu kini telah banyak dipasarkan Digital Prayer
Time Keeping sebuah alat yang sebesar kalkulator
saku yang berfungsi sekaligus mengetahui jadwal
waktu shalat, memperdengarkan adzan, menunjukkan
arah kiblat, menampilkan kalender Hijriyah dan
Masehi serta dapat memperdengarkan alunan ayat
suci Al Qur’an. Teknik penggunaan peralatan
tersebut tidak dibahas di sini.
3. Global Positioning Sistem (GPS)
Global Positioning System (GPS) adalah suatu sistem
pemandu arah (navigasi) yang memanfaatka teknologi
satelit. Penerima GPS memperoleh sinyal dari
beberapa satelit yang mengorbit bumi. Satelit yang
mengitari bumi pada orbit pendek ini terdiri dari 24
susunan satelit, dengan 21 satelit aktif dan 3 buah
satelit sebagai cadangan. Dengan posisi orbit tertentu
dari satelit-satelit ini maka satelit yang melayani GPS
bisa diterima diseluruh permukaan bumi dengan
penampakan antara 4 sampai 8 buah satelit. GPS dapat
memberikan informasi posisi, ketinggian dan waktu
dengan ketelitian sangat tinggi. Nama lengkapnya
adalah NAVSTAR GPS (Navigational Satellite Timing
and Ranging Global Positioning System; ada juga
yang mengartikan “Navigation System Using Timing
and Ranging.”) Dari perbedaan singkatan itu, orang
lebih mengenal cukup dengan nama GPS. Dan GPS
mulai diaktifkan untuk umum tahun 1995.
Kini telah banyak merk-merk GPS yang beredar di
pasaran. Diantaranya yang cukup dikenal adalah GPS
Garmin, Magellan, Navman, Trimble, Leica, Topcon
dan Sokkia. GPS Garmin seri Vista Cx contohnya
memiliki banyak fitur. Kecuali ia mampu memberikan
informasi posisi secara akurat termasuk ketinggian di
atas muka air laut alat ini memiliki fitur kompas yang
juga sangat akurat. Kelebihan dari kompas yang
dimiliki oleh GPS ini adalah ia tidak dipengaruhi
oleh medan magnetik baik deklinasi magnetik bumi
maupun medan magnet lokal serta dapat memandu
arah secara akurat karena dipandu oleh sinyal dari
satelit. Alat ini tentunya sangat membantu saat
dilakukan pengukuran arah kiblat. Cuma untuk
sekarang harga alat ini masih tergolong mahal.
4. Theodolit
Theodolit adalah alat yang digunakan untuk
mengukur sudut horisontal (Horizontal Angle = HA)
dan sudut vertikal (Vertical Angle = VA). Alat ini
banyak digunakan sebagai piranti pemetaan pada
survey geologi dan geodesi. Dengan berpedoman
pada posisi dan pergerakan benda-benda langit
misalnya matahari sebagai acuan atau dengan bantuan
satelit-satelit GPS maka theodolit akan menjadi alat
yang dapat mengetahui arah secara presisi hingga
skala detik busur (1/3600 °).
Theodolit terdiri dari sebuah teleskop kecil yang
terpasang pada sebuah dudukan. Saat teleskop kecil
ini diarahkan maka angka kedudukan vertikal dan
horintal akan berubah sesuai perubahan sudut
pergerakannya. Setelah theodolit berskala analog
maka kini banyak diproduksi theodolit dengan
menggunakan teknologi digital sehingga pembacaan
skala jauh lebih mudah. Beberapa merk theodolit
misalnya Nikon, Topcon, Leica, Sokkia
Pointing Titik Utara Sejati
Untuk pengukuran arah kiblat maka yang diperlukan
hanya skala sudut horisontalnya atau Horizontal
Angle (HA). Hal paling penting dalam penggunaan
theodolit saat digunakan sebagai pemandau arah kiblat
adalah pointing terhadap titik Utara sejati sebagai
acuan terhadap perubahan sudut yang ditunjukkan
oleh skala horisontalnya atau yang disebut “Azimuth”,
sementara untuk menjadikan bagian skala vertikal
atau “Altitude” juga akurat maka kedudukan alat saat
kalibrasi harus benar-benar datar. Pointing terhadap
titik Utara bisanya dilakukan dengan mengarahkan
theodolit ke matahari dan dicari berapa azimuth
matahari saat itu untuk dicocokkan sehingga bisa
diketahui arah utara sejatinya (True North). Pointing
juga bisa dilakukan dengan menggunakan kompas
yang biasanya terpasang di atas theodolit.
Pengukuran arah kiblat menggunakan theodolit
dirasakan sulit terutama terkendala oleh sulitnya
melakukan pointing terhadap titik Utara Sejati apalagi
posisi matahari yang dijadikan target sudah tinggi di
atas kepala atau bahkan kompas yang biasanya di atas
theodolit sering tidak presisi. Untuk itu diperlukan
teknisi yang menguasai betul penggunaan alat ini
kecuali harganya yang juga termasuk sangat mahal.
5. Total Station
Alat ini merupakan langkah maju dan modernisasi
dari theodolit. Total Station dilengkapi dengan piranti
Global positioning System (GPS) sebagai pemandu
arah dan posisi serta peningkatan dalam hal akurasi.
Alat ini juga dilengkapi dengan penjejak jarak
otomatis menggunakan laser. Pada teleskopnya juga
dilengkapi dengan sensor CCD sehingga saat
pembidikan cukup dilihat lewat layar monitor. Alat
ini bahkan mampu menyimpan data-data hasil
pengukuran dalam memorinya yang sudah serba
komputerisasi.
Untuk pengukuran arah kiblat alat ini akan langsung
mencari sendiri kemana arah kiblat dan arah shaff
shalat langsung dari dalam bangunan masjid dengan
tingkat akurasi yang tinggi. Beberapa merk Total
Station misalnya Nikon, Topcon, Leica, Sokkia dan
Horizon. Jangan bertanya mengenai harga alat ini
sebab yang jelas sangat berat untuk kantong kita
pribadi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 01/08/2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: